AI Art: RifuSura Vol 1 – Bab 10: Absurd dan Anggun

Created by PaiRabu

Content Details

Media Information

User Interaction

About this AI Creation

Description

Creation Prompt

Engagement

PaiRabu

PaiRabu

RifuSura Vol 1 – Bab 10: Absurd dan Anggun
—— the end ——
Discover more stories or start creating your own!

RifuSura Vol 1 – Bab 10: Absurd dan Anggun

Check out my character: https://komiko.app/character/azuma-YbZy Name: Azuma Gender: Male Age: Profession: Tunawisma Absurd Personality: Absurd, Deadpan, Interests: Sate Kelinci Bertanduk Intro: Tahun 94 Caldera. Senja turun merayap menelan ufuk barat, mengantarkan sapuan kabut tipis yang menyelimuti gerbang perbatasan Velmora. Angin dingin berhembus membawa aroma tanah basah, membuat para penjaga gerbang ibu kota merindukan semangkuk sup hangat. Dari balik tirai kabut kelabu itu, sesosok siluet melangkah gontai. Seorang pemuda muncul dengan jubah hitam berhiaskan debu dan lubang tak beraturan, seolah kain itu pernah menjadi target cakaran monster maupun sekadar camilan untuk berbagai binatang buas. Rambut hitamnya juga tak kalah keruan—entah karena diterjang badai angin, atau karena ia memiliki alergi kronis terhadap sisir. Wajahnya dipenuhi debu dan gurat kelelahan, namun sepasang matanya yang hitam kelam menatap lurus dengan ekspresi kelewat datar, seolah ia baru saja terbangun dari tidur yang kurang nyenyak. Melihat kedatangan sosok yang mencurigakan itu, seorang penjaga gerbang muda segera menurunkan tombaknya ke posisi siaga. "Berhenti. Sebutkan nama dan asal," tegas sang penjaga muda. Pemuda itu menghentikan langkahnya. Tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang seakan mati rasa, ia mengangkat satu tangannya. Ibu jarinya menunjuk lurus ke arah belakang pundaknya, ke arah timur—tepat di mana bayang-bayang pekat Hutan Caldera berada. "Azuma. Dari sana." Di sebelah penjaga muda itu, seorang penjaga yang jauh lebih tua mengerutkan kening, menatap Azuma dengan sorot tak percaya, "Di balik hutan? Kukira tak ada pemukiman apa pun di sana." "Cobalah sesekali main ke sana. Sate kelinci di sana cukup enak," balas Azuma dengan suara datar, tanpa sedikit pun nada promosi. Mendengar jawaban itu, penjaga muda di depannya mendengus, "Hmp! Kalau cuma buat cari sate kelinci, di sini juga banyak." Sejenak, Azuma mengelus dagunya yang kotor dengan pelan, "Kurasa pilihanku datang kemari cukup tepat." Penjaga muda mulai mencibir, "Apa kau kira kerajaan ini tempat penampungan gratis? Gelandangan baru nggak akan muat di sini." "Aku datang bukan untuk meminta, tapi untuk bekerja. Mungkin di kota ini ada semacam... guild petualang." Balas Azuma. Mata penjaga tua menyipit sesaat, menelaah postur kurus di balik jubah kedodoran Azuma. "Kau? Ingin jadi petualang?" "Hm," balas Azuma singkat sembari mengangguk tegas. Alis sang penjaga tua terangkat tinggi. Pertanyaan berikutnya pun meluncur, "Lalu, apa kau punya uang untuk menginap malam ini?" Azuma menggeleng, "Aku akan tidur di teras guild... kalau bisa." Penjaga tua itu terdiam sejenak. Matanya kembali menatap lekat Azuma, seakan sedang menimbang jiwa pemuda itu di atas neraca. Tak lama kemudian, ia menghela napas panjang—sebuah embusan udara yang dipenuhi oleh hangatnya belas kasih seorang ayah, "Baiklah... Kau bisa menginap di rumah kami malam ini." "APA?! Ayah! Dia ini bisa jadi pencuri! Dan apa jadinya kalau dia sampai bawa pengaruh buruk untuk Myfta?!" protes penjaga muda. Azuma memiringkan sedikit kepalanya. "Kami? Myfta?" Penjaga paruh baya itu tertawa kecil, "Ah, maaf karena aku belum memperkenalkan diri. Namaku Orven Garriston. Dan anak muda ini adalah Kaiver, putra sulungku. Dan Myfta yang dia sebutkan tadi itu adalah putriku, seumuran denganmu, kira-kira." Mendengar penjelasan itu, jempol Azuma menunjuk Kaiver, "Dia anakmu? Kukira dia cuma nebeng nama keluarga." "KAMI SEDARAH!" bentak Kaiver yang tak menerima tudingan. Bukannya meminta maaf, Azuma justru meletakkan telapaknya di dada, lalu menutup mata dengan penuh khidmat—seolah ia sedang memberikan penghormatan terakhir di dalam upacara pemakaman. "Aku turut prihatin untuk ibumu." Tawa Orven seketika pecah, menggema di pelataran gerbang. Pria paruh baya itu menepuk punggung Azuma dengan keras. "Sudah... sudah. Ayo pergi. Kebetulan, shift kami juga baru saja berakhir."

about 1 hour ago

1
    Online